“Wahai manusia, sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yg paling utama.
Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.
Selengkapnya »
Posted by: riyadiin Cinta
Langit begitu mempesona. Kerlip gemintang bagaikan menggoda rembulan yang sedang kasmaran. Suguhan orkestra dari penghuni malam laksana simfoni indah. Seketika romansa pun tercipta. Hingga, sepasang manusia itu semakin dimabuk kepayang.
Mereka memang baru saja menjalin sebuah ikatan. Memadu segala rasa dari dua lautan jiwa. Berjanji, menjaga bahtera tak akan karam walau kelak badai garang menghadang. Kini, dunia seakan menjadi milik berdua. Malam pertama yang selalu panjang bagi setiap mempelai dilalui dengan penuh mesra. Tak diharapkannya pagi segera menjelang. Segala gemuruh hasrat tertumpah. Sebab, sesuatu yang haram telah menjadi halal.
Namun…
Selengkapnya »
Posted by: riyadiin Cinta
Bunda…
Sebuah nama indah yang dikagumi berjuta jiwa
Lewat pelukannya, cinta itu mengalir tiada jeda
Dengan samudera kasihnya, biduk kecil itu berlayar walau tiada nakhoda
Kelak, lelah bunda pun akan menuai berjuta pahala
Duhai…
Tidakkah engkau ingin menjadi bunda?
Seberkas cahaya terang menyilaukan matanya yang belum bisa melihat dengan sempurna. Seketika itu juga melengking tangisan dari bibir mungilnya. Suasana asing dengan suara-suara aneh membuatnya takut dan merasa tak nyaman. Sepasang tangan yang memegangnya inipun seakan enggan merengkuh tubuh mungilnya ke dalam dekapan. Tak ada pelukan kasih sayang, senyum keikhlasan, apalagi belaian kehangatan.
Selengkapnya »
Posted by: riyadiin Cinta
Duhai Allah,
Airmata itu pernah tumpah, deras bercucuran
Luruh dalam isakan, menyayat kepedihan
Hanya karena enggan jemari ini bersentuhan
Ampuni diri yang dzalim ini yaa Allah
Sadarkan, sebelum saatnya harus beranjak pergi
Jauh, dan… tak akan pernah kembali
Jemari itu tak lagi lentik. Terasa berbeda saat pertama kali disentuh kala malam pertama. Kulitnya bersisik dan berkerut, karena getir kehidupan. Guratan bekas parutan pun membuatnya bertambah kasar. Tak jarang jemari itu basah, menahan kristal-kristal bening yang menggenang di telaga mata. Pedih… teringat pedasnya kata yang pernah menusuk hati.
Selengkapnya »